Di Wonosari nama sate kambing pak Turut yang paling punya nama. Maklumlah, sudah dirintis sejak tahun 1979 dan punya 4 kedai yang lumayan ramai. "Saya mengelola 3 kedai, dan 1 kedai oleh adik saya," jelas Ny. Mini (39), putri almarhum Bpk Turut yang meneruskan usaha ini.
Saking ramainya, saat makan siang biasanya Mini sudah membakar satenya hingga setengah matang agar lebih cepat penyajiannya. Sate dibakar di atas bakaran berbahan bakar arang. Sebelumnya, sate terlebih dulu direndam dalam bumbu yang disebut kopyokan. Bumbu kopyokan ini terdiri dari aneka rempah plus kuah gulai yang dimasak hingga 4 jam lamanya hingga agak mengental. Sate kemudian dibakar hingga matang dan disajikan bersama irisan kol dan timun plus sambal kecap.
Pilihan satenya pun beragam. Ada sate daging, hati, atau campur. Dalam sehari, Mini mengaku butuh 3 - 4 ekor kambing gemuk untuk memenuhi kebutuhan sate di 3 kedainya. Selain sate, juga tersedia tongseng, gulai. Bahkan tongseng kepala dan kaki kambing pun juga ada. Harga hidangan ini berkisar antara Rp 8 - 13 ribu per porsi.
Kedai utama miliknya terletak di JI. Kesatriaan No. 63 . Telp (0274) 7489282. Untuk dalam kota, tersedia juga cabang diJI. Yogyakarta. Sedangkan di luar kota lokasinya ada di Karang Mojo dan Ngricik. Kedai ini buka setiap hari sejak pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore.
TIWUL YU TUM
Nah, inilah sebenarnya hidangan paling khas dari daerah Gunung Kidul.. Ya, tiwul. Makanan ini berbahan dasar gaplek (singkong yang dijemur), diparut kasar. Hidangan ini dulu digunakan sebagai pengganti nasi. Namun oleh perintisnya, Ny. Tumir3h (72), tiwul dikemas dengan lebih cantik dengan rasa • yang dimodifikasi. "Dulu tiwul berbentuk kasar dan rasanya tawar," jelas Bpk Slamet (32), sang menantu yang kini membantu mengelola usaha ini. Tiwul kemudian digiling lebih halus dan diberi tambahan rasa dari gula jawa. Rasanya sungguh nikmat dan lembut. Apalagi di toko ini Anda bisa mendapatkan yang masih panas mengepul langsung dari dapurnya. Slamet menggunakan bahan dasar tiwul kasar yang dihaluskan kembali. Kemudian dicuci dan dibuat adonan tiwul. Ada dua pilihan, tiwul biasa dan coblong. Tiwul E3iasa menggunakan gula yang dilarutkan dalam adonan sehingga rasa gulanya merata. Sedangkan coblong menggunakan pecahan gula merah langsung sehingga meleleh dalam adonan.
Anda bisa membeli yang irisan atau satu tumpeng utuh. Harganya antara Rp 5-20 ribu.Tersedia juga tumpeng besar seharga Rp 45 ribu untuk acara pesta atau acara lainnya
RM.BERKAH TIRTA SIMO
Ikan Bakar Mina Simo merupakan Rumah makan yang sangat terkenal di
Gunungkidul. Usaha ini dirintis atas gagasan Camat Ponjong, R. Haryo
Ambarsuwardi. Tepatnya terletak di desa Simo I, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul.
Rumah makan ini banyak peminatnya, tidak hanya makanan dan “wedangan” nya yang
enak, tapi juga pemandangannya yang indah dan sejukKita bisa makan dengan
menikmati pemandangan berupa bendungan yang di taburi dengan benih ikan Nila,
Gurameh dan Lele, tapi juga sawah yang membentang luas. Rumah makan terletak di
tengah kolam ikan yang bisa juga kita pancing. Bibit ikan didapatkan dari
Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Makanan yang disediakan pun beraneka ragam.
Ada nila bakar/goreng, Gurameh bakar/goreng, lalapan, jus, dll.LESEHAN PARIGOGO
Salah satu tempt kuliner yang tak
kalah dengan yang lain,Di Wonosari saya sempat mampir di Lesehan Parigogo
ini warung terkenal banget, saya
baru pertama kali kesini, pas nyampe rame banget sampai-sampai kami harus
nunggu tempat duduk. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya kami kebagian
tempat. Menu lengkap yang terhidang Sego Abang, Sayur Lombok Ijo, Tumis Daun
Pepaya, Trancam. Lauk pauk yang terhidang, ayam goreng, ikan wader goreng, iso
babat, dan yang menjadi incaran saya adalah belalang goreng. hihi. akhirnya
kesampaian juga makan belalang goreng. Rasa makanannya rumahan banget, enak,
apalagi pas lapar-laparnya.
Lesehan Parigogo
- Jl. Raya Wonosari-Semanu, Gunung Kidul (Barat
jembatan jirak Semanu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar